Tanpa bermaksud untuk mendramatisasi tentang orang Israel dan atau orang Yahudi, saya ingin berbagi informasi yang saya peroleh dari membaca terjemahan H. Maaruf Bin Hj Abdul Kadir (guru besar berkebangsaan Malaysia) dari Universitas Massachuset USA tentang penelitian yang dilakukan oleh DR.Stephen Carr Leon. Penelitian DR Leon ini adalah tentang pengembangan kualitas hidup orang Israel atau orang Yahudi..
Mengapa Orang Yahudi, rata-rata pintar ? Studi yang dilakukan mendapatkan fakta-fakta sebagai berikut :
Ternyata, bila seorang Yahudi Hamil, maka sang ibu segera saja meningkatkan aktivitasnya membaca, menyanyi dan bermain piano serta mendengarkan musik klasik. Tidak itu saja, mereka juga segera memulai untuk mempelajari matematika lebih intensif dan juga membeli lebih banyak lagi buku tentang matematika. mempelajarinya, dan bila ada yang tidak diketahui dengan baik, mereka tidak segan-segan untuk datang ke orang lain yang tahu matematika untuk mempelajarinya. Semua itu dilakukannya untuk anaknya yang masih didalam kandungan.
Setelah anak lahir, bagi sang ibu yang menyususi bayi nya itu, mereka memilih lebih banyak makan kacang, korma dan susu. Siang hari, makan roti dengan ikan yang tanpa kepala serta salad. Daging ikan dianggap bagus untuk otak dan kepala ikan harus dihindari karena mengandung zat kimia yang tidak baik untuk pertumbuhan otak si anak. Disamping itu sang ibu diharuskan banyak makan minyak ikan (code oil lever).
Menu diatur sedemikian rupa sehingga didominasi oleh ikan. Bila ada daging, mereka tidak akan makan daging bersama-sama dengan ikan,karena mereka percaya dengan makan ikan dengan daging hasilnya tidak bagus untuk pertumbuhan. Makan ikan seyogyanya hanya makan ikan saja, bila makan daging , hanya makan daging saja, tidak dicampur. Makan pun, mereka mendahulukan makan buah-buahan baru makan roti atau nasi. Makan nasi dulu baru kemudian makan buah, dipercaya akan hanya membuat ngantuk dan malas berkerja.
Yang istimewa lagi adalah : Di Isarel, merokok itu tabu ! Mereka memiliki hasil penelitian dari ahli peneliti tentang Genetika dan DNA yang meyakinkan bahwa nekotin akan merusak sel utama yang ada di otak manusia yang dampaknya tidak hanya kepada si perokok akan tetapi juga akan mempengaruhi "gen" atau keturunannya. Pengaruh yang utama adalah dapat membuat orang dan keturunannya menjadi "bodoh" atau "dungu". Walaupun, kalau kita perhatikan , maka penghasil rokok terbesar di dunia ini adalah orang Yahudi ! Tetapi yang merokok , bukan orang Yahudi.
Anak-anak, selalu diprioritaskan untuk makan buah dulu baru makan nasi atau roti dan juga tidak boleh lupa untuk minum pil minyak ikan. Mereka juga harus pandai bahasa , minimum 3 bahasa harus dikuasai nya yaitu Hebrew, Arab dan bahasa Inggris. Anak-anak juga diwajibkan dan dilatih piano dan biola. Dua instrument ini dipercaya dapat sangat efektif meningkatkan IQ mereka. Irama musik terutama musik klasik dapat menstimulasi sel otak. Sebagian besar dari musikus genius dunia adalah orang Yahudi.
Satu dari 6 anak Yahudi, diajarkan matematik dengan konsep yang berkait langsung dengan bisnis dan perdagangan. Ternyata salah satu syarat untuk lulus dari Perguruan Tinggi bagi yang Majoring nya Bisnis, adalah, dalam tahun terakhir, dalam satu kelompok mahasiswa (terdiri dari 10 orang), harus menjalankan perusahaan. Mereka hanya dapat lulus setelah perusahaannya mendapat untung 1 juta US Dollar. Itulah sebabnya, maka lebih dari 50 % perdagangan di dunia dikuasai oleh orang Yahudi. Design "Levis" terakhir diciptakan oleh satu Universitas di Israel, fakultas "business and fashion".
Olah raga untuk anak-anak, diutamakan adalah Menembak, Memanah dan Lari. Menembak dan Memanah, akan membentuk otak cemerlang yang mudah untuk "fokus" dalam berpikir !
Di New York, ada pusat Yahudi yang mengembangkan berbagai kiat berbisnis kelas dunia. Disini terdapat banyak sekali kegiatan yang mendalami segi-segi bisnis sampai kepada aspek-aspek yang mempengaruhinya. Dalam arti mempelajari aspek bisnis yang berkaitan juga dengan budaya bangsa pangsa pasar mereka. Pendalaman yang bergiat nyaris seperti laboratorium, "research and development" khusus perdagangan dan bisnis ini dibiayai oleh para konglomerat Yahudi. Tidak mengherankan bila kemudian kita melihat keberhasilan orang Yahudi seperti terlihat pada : Starbuck, Dell Computer, Cocacola, DKNY, Oracle. pusat film Hollywood, Levis dan Dunkin Donat.
Khusus tentang rokok, negara yang mengikuti jejak Israel adalah Singapura. Di Singapura para perokok diberlakukan sebagai warga negara kelas dua. Semua yang berhubungan dengan perokok akan dipersulit oleh pemerintahnya. Harga rokok 1 pak di Singapura adalah 7 US Dollar, bandingkan dengan di Indonesia yang hanya berharga 70 sen US Dollar. Pemerintah Singapura menganut apa yang telah dilakukan oleh peneliti Israel , bahwa nekotin hanya akan menghasilkan generasai yang "Bodoh" dan "Dungu".
Percaya atau tidak, tentunya terserah kita semua. Namun kenyataan yang ada terlihat bahwa memang banyak sekali orang yahudi yang pintar ! Tinggal, pertanyaannya adalah, apakah kepintarannya itu banyak manfaatnya bagi peningkatan kualitas hidup umat manusia secara keseluruhan.
Jakarta 5 Februari 2009
Chappy Hakim
(mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara 2002-2005)
copas from : http://elyanigunadi.blogspot.com/2009/02/mengapa-orang-yahudi-banyak-yang-pintar.html
Rabu, 27 Januari 2010
Selasa, 19 Januari 2010
GERAKAN ANGKATAN MUDA KRISTEN INDONESIA (GAMKI)
Sejarah
Bung Karno mengatakan "tariklah pelajaran dari mempelajari sejarah dan jadikanlah itu jadi hukum moral yang sangat menentukan". Memang suatu bangsa bisa menjadi besar jika bangsa itu bekerja keras, hasil besar suatu bangsa adalah kristalisasi keringat perjuangan bangsa tersebut.
"Tariklah pelajaran dari mempelajari sejarah dan jadikanlah itu jadi hukum moral yang sangat menentukan"
Lahirnya Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia melalui perjalanan sejarah yang amat panjang dan mengikuti perjalanan sejarah bangsa. Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, merupakan mujizat dan anugerah bagi Rakyat Indonesia. Perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan setelah proklamasi 17 Agustus 1945 masih sangat berat. Tekad Belanda untuk kembali menduduki wilayah Indonesia mendapat tantangan yang keras dari seluruh lapisan masyarakat. Dalam masa revolusi itu pemuda-pemudi terpanggil untuk terjun dalam kancah peperangan. Demikian pula dengan Angkatan Muda Kristen Indonesia. Kesadaran bahwa angkatan muda kristen dan seluruh umat Kristen adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari bangsa Indonesia menggugah angkatan muda Kristen untuk mengorganisir diri menunjukkan keberadaannya
Lanjutan Sejarah ( bag I )
Menurut seorang pendeta Gereja Krsiten Jawa yaitu Pdt. S. Brotosuwignyo , menjelang diadakannya Kongres Pemuda tanggal 9-11 Nopember 1945 di Yogyakarta, sekelompok pemuda Kristen membentuk organisasi pemuda Kristen untuk mengambil bagian dalam kongres. Perjuangan membentuk organisasi itu memang tidak terlalu mulus. Para pemimpin pemuda Kristen di Yogyakarta itu mengadakan pertemuan dengan mengundang para pendeta dan pimpinan umat Kristen. Tetapi banyak tidak hadir dalam pertemuan tersebut karena belum adanya kesadaran akan kedudukan umat Kristen di Indonesia serta adanya pengertian yang sengaja dihembus-hembuskan bahwa politik itu dosa, kotor dan sebagainya. Dipihak lain, kecurigaan masyarakat terhadap umat Kristen dan tuduhan sebagai antek-antek Belanda.
Justru dengan tantangan seperti itu, mendorong pemimpin-pemimpin angkatan muda Kristen mengadakan pertemuan tanggal 4 Nopember 1945 di Yogyakarta itu membentuk organisasi yang diberi nama Pemoeda Kristen Protestan Indonesia (PKPI) dan Ketua Umum Pengurus Besar di tangan Sarwoko (seorang wartawan dan warga jemaat Gereja Kristen Jawa Jakarta). Adapun pimpinan yang lain adalah Sutjipto Wirowidjojo, Sarasto, Pdt. S Brotosuwignyo dan lain-lain
Tidak lama setelah terbentuknya PKPI, tokoh-tokoh Kristen membentuk partai politik. Partai politik yang beraspirasi Kristen itu dibentuk di jalan Kramat Raya 65 Jakarta dengan nama Partai Kristen Nasional. Beberapa nama yang berkumpul pada waktu itu Dr.St. Gunung Mulia.SH, F. Laoh, Pdt. Probowinoto, Dr. WS Johanes, JK Pangabean, Sudarsono, Maryoto dan M Abednego. Dalam percakapan yang dipimin oleh Pdt. Probowinoto (Gereja Kristen Jawa) tanggal 11 Nopember 1945 disetujui berdirinya Partai Kristen Nasional yang bertujuan dan berusaha dalam bidang politik, ekonomi, sosial menurut asas-asas Firman Tuhan yang termaktub dalam Alkitab.
Lanjutan Sejarah ( bag II )
Di dalam Kongres I pada tanggal 29-31 Januari 1946 PKPI mengganti nama menjadi Persatuan Pemuda Kristen Indonesia (PPKI). Dalam kongres itu juga dipilih Ketua Umum Pengurus Besar yaitu Pdt. S Brotosuwignyo dan Sekretaris Umum Pengurus Besar yaitu F. Tambunan. PPKI pada tahun 1947 ikut membentuk Front Nasional Indonesia bersama dengan Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), Pemuda Demokrat, Pemuda Katolik dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dalam rangka untuk membendung dominasi Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo).
Gerakan Oikumene di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari simbol-simbol yang jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia telah nampak. Walaupun gerakan oikumene baru mendapatkan bentuknya yang semakin jelas sesudah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Simbol-simbol yang diwujudkan dalam berbagai peristiwa oikumenis yang melibatkan angkatan muda Kristen baik secara regional, nasional maupun internasional jelas merupakan babak awal yang mempunyai kaitan dengan setiap gerakan. Kelambatan pembentukan Dewan Gereja Indonesia itu ditanggapi pemuda-pemuda Kristen dengan satu gerak yang lebih cepat dalam melembagakan gerakan oikumenis di Indonesia. Suatu pertemuan oikumenis pemuda Kristen se Indonesia yang diadakan tangal 18-28 Desember 1948 telah melahirkan satu lembaga pemuda Kristen yang benar-benar bersifat oikumenis, dengan nama Majelis Pemuda Kristen Oikumenis (MPKO), yang dipelopori oleh Pdt. WJS Rumambi.
Lanjutan Sejarah ( bag III )
Dengan lahirnya MPKO sebagai perwujudan gerakan oikumene di Indonesia, maka kepeloporan angkatan muda Kristen menjadi lengkap. PPKI bergerak dalam kemasyarakatan, kebangsaan, kenegaraan dan gereja, sedangkan MPKO berada dalam lingkup oikumenis.
Walaupun dalam perjalanannya PPKI dan MPKO selalu mengusahakan pendekatan kepada masing-masing pihak, namun baru pada bulan Nopember 1955 kedua pimpinan organisasi tersebut mengadakan pertemuan, yaitu atas inisiatip Dr. J. Leimena. Dalam pertemuan itulah kedua pimpinan organisasi mengeluarkan pernyataan bersama dalam rangka menggalang persatuan dan kesatuan pemuda.
Sebagai tindak lanjut dari pertemuan tersebut, pimpinan MPKO diwakili Pdt. Lee Sian Hui dan PPKI diwakili Alexander Wenas pada tanggal 13 Juli 1956 mengikuti Sidang Lengkap III DGI di Jakarta. Setelah melalui perjalanan yang panjang pergumulan antara DGI, PPKI dan MPKO maka pada 24 Maret 1961 diadakan konsultasi organisasi-organisasi Pemuda Kristen di DGI dengan menghasilkan suatu kesepakatn dan penegasan terhadap kesatuan "keesaan segenap Pemuda Kristen Indonesia dalam wujud satu organisasi". Penanda tangan pernyataan tersebut antara lain Mr. JCT Simorangkir (PPKI), Soebagyo Pr (PPKI), Sarwoko (PPKI), Gouw Kiem An (MPKO), I Pangomanan (MPKO), Soetarno STh (GMKI), JE Tulung mewakili Komisi Pemuda DGI dll.
Sejak ditandatanganinya pernyataan bersama itu usaha untuk mewujudkan kesatuan organisasi Pemuda Kristen pun semakin nyata. Pada bulan April 1962, MPKO menyelenggarakan Kongresnya yang ke VI di Jakarta mengambil keputusan-keputusan penting antara lain pembubaran MPKO. Dan sehari setelah Kongres VI MPKO itu diadakan Musyawarah Pemuda Kristen Seluruh Indonesia yang disponsori oleh Komisi Pemuda DGI. Musyawarah itu berlangsung dari tanggal 18-23 April 1962 di Kebayoran Baru, Jakarta. Dalam musyawarah tersebut nama GERAKAN ANGKATAN MUDA KRISTEN INDONESIA yang telah dicetuskan dalam konsultasi pimpinan organisasi Pemuda Kristen Indonesia tanggal 24 Maret 1961 disahkan sebagai nama organisasi kesatuan Pemuda Kristen. Di dalam Anggaran Dasarnya termaktub kalimat bahwa GAMKI sebagai kelanjutan Persatuan Pemuda Kristen Indonesia (PPKI) yang didirikan pada tanggal 4 Nopember 1945 di Yogyakarta di tengah-tengah bergolaknya Revolusi Kemerdekaan Indonesia.
Lanjutan Sejarah ( bag IV )
Sebagai pimpinan organisasi, musyawarah tersebut memilih Dewan Pimpinan Pusat GAMKI dengan Ketua Umum Mr. JCT Simorangkir dan Sekretaris Jenderal Soebagyo Pr. dan anggota-anggotanya antara lain Sarwoko, Soetarno, Sumardi MA, A Wenas dan sekretariat di jalan Salemba Raya 10 Jakarta.
Sebagai realisasi dari keputusan tersebut maka PPKI mengadakan kongresnya ke VIII di Surabaya tahun 1962 dengan memutuskan untuk mengintegrasikan diri di dalam GAMKI.
Terbentuknya GAMKI sebagai organisasi kesatuan pemuda Kristen Indonesia semakin membulatkan tekad untuk mewujudkan gerak ganda pemuda Kristen Indonesia secara bersama-sama. Pemuda Kristen serta gereja-gereja telah mengakui bahwa GAMKI merupakan satu-satunya organisasi pemuda Kristen yang membawakan suara pemuda Kristen di tengah-tengah masyarakatnya. Dengan dasar kesepakatan dan keputusan tersebut menjadi jelas komisi pemuda gereja bergerak secara khusus dalam lingkungan gerejani dan secara kelembagaan menjadi sumber insani (sumber kader) bagi GAMKI.
Perjalanan bersama antara GAMKI dan GMKI itu mendorong keduanya saling mengisi dan di dalam pertumbuhan organisasi massa Kristen yang lain, kedua organisasi itu memberikan kader-kadernya sebagai pimpinan, seperti nampak dalam pembentukan Gerakan Siswa Kristen Indonesia pada tahun 1964.
Dalam Kongres tahun 1965 terpilih sebagai Ketua Umum adalah Soebagyo Pr. dan Sekretaris Jenderalnya Pontas Nasution Selesai kongres I itu GAMKI dihadapkan dengan kenyataan terjadinya peristiwa G-30-S/PKI di akhir bulan September. Oleh karena itu secara bahu membahu GAMKI, GKMI dan GSKI terus mengikuti perkembangan masyarakat secara saksama. GAMKI membentuk Brigade Serba Guna (Brigsena) sebagai satu kesatuan, di Yogyakarta membentuk Komando Siaga Kristen (KSK) sebagai satuan bela diri. KSK yang didirikan tahun 1966 itu berkembang sebagai satu perguruan yang memiliki ciri-ciri khas dengan nama aliran Merpati Putih. Pada masa itu GAMKI kehilangan 5 anggotanya di Solo.
Kongres II GAMKI baru berlangsung pada tanggal 27-30 Nopember 1969 di Sukabumi, dan terpilih sebagai Ketua Umum adalah Pontas Nasution dan Sekretaris Umum adalah FW Raintung dan dilengkapi dengan lima orang ketua masing-masing Sutjipto, Pdt. Eka Dharma Putera, Subagyo Pr, Nn. Henny Mussu dan Amir L Sirait. Karena adanya peraturan Menteri Dalam Negeri No.12 yang dikenal dengan Permen 12, yang menuntut kesetiaan pegawai negeri untuk menganut loyalitas tunggal, maka banyak fungsionaris DPP GAMKI menjadi tidak aktif. Selain hal itu kepengurusan ini tidak dapat berjalan dengan baik karena Pontas Nasution, Pdt. Eka Dharma Putera studi ke luar negeri.
Kondisi organisasi yang kurang hidup tersebut, akhirnya diadakan reshuffle personalia dan dikukuhkan Amir L Sirait sebagai Ketua Umum dan Pdt. F.W Raintung sebagai Sekretaris Umum sampai pada Kongres III. Kongres DPP GAMKI III diadakan di Samirono Yogyakarta, sepertinya ada tradisi setelah menjadi Sekretaris Umum langsung menggantikan sebagai Ketua Umum. Pada periode itu Pdt. F.W. Raintung menjabat sebagai Ketua Umum dan Sekretaris Umum dijabat oleh Suryohadi.
Pada tanggal 22-29 April 1984 diadakan Kongres IV di Cibubur dan berhasil mengadakan penyegaran dan regenerasi secara total dalam kepengurusan Dewan Pimpinan Pusat. Batas usia 40 tahun bagi pimpinan organisasi dapat diberlakukan dengan terpilihnya dr. Sukowaluyo sebagai Ketua Umum dan Patmono Sk STh sebagai Sekretaris Umum (keduanya adalah anggota Gereja Kristen Jawa). Pada periode tersebut masalah yang dihadapi antara lain tentang proses pembahasan undang-undang tentang organisasi kemasyarakatan yaitu rencana ditetapkannya Pancasila sebagai satu-satunya asas. Pokok permasalahan ini disoroti secara kritis oleh GAMKI, dan memberi pandangan bahwa Pancasila adalah sebagai dasar dan ideologi negara. GAMKI terus berdiskusi dengan berbagai pihak dengan Fraksi Karya Pembangunan diwakili Pdt. Srihandoko STh, John Pieres dan Milton Hasibuan. Sedangkan pertemuan dengan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia diwakili dr. Sukowaluyo, John Pieres dan Patmono Sk. STh.
Dalam Kongres GAMKI ke V terpilih Alex Paath sebagai Ketua Umum, perjalanan yang sangat memprihatinkan, dan mengakibatkan DPD dan DPC seluruh Indonesia menyatakan sikap untuk tidak mengakui Ketua Umum. Melalui peran para senior GAMKI, maka menunjuk Alex Litay sebagai Pj. Ketua Umum dan Bernard Nainggolan SH sebagai Pj. Sekretaris Umum untuk mempersiapkan kongres GAMKI VI.
Pada Kongres GAMKI VI di Wisma Kinasih-Caringin tanggal 26-29 September 1993, dapat menyusun personalia baru, tetapi karena campur tangan pihak-pihak lain, maka terpilihlah Pdt. Dicky Mailoa STh sebagai Ketua Umum dan Drs. Ohiao Halawa sebagai Sekretaris Umum.
Pertanyaan besar yang terjadi kapan DPP hasil Kongres Ke VI berakhir, terjawab sudah dengan diadakannya Pertemuan Nasional Pemuda Kristen dan Kongres Ke-7 Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia yang dilangsungkan di Graha Wisata Pemuda, Kuningan Jakarta pada tanggal 10 April s/d 13 April 2003, yang diprakarsai oleh Dr. Sukowaluyo Mintorahardjo.
Hasil Kongres Ke VII tersebut berakhir dengan terpilihnya Sahat Sinaga,S.H sebagai Ketua Umum dan Nikson Gans Lalu,S.H. sebagai Sekretaris Umum. Tidaklah ringan beban tanggung jawab dari DPP periode 2003-2007, karena berada pada suatu situasi Pemerintahan yang mempunyai warna baru dan sulitnya ekonomi serta meningginya angka pengangguran.
Hal yang terpenting adalah DPP harus dapat tanggap dan segera menentukan suatu garis organisasi yang jelas untuk dapat eksis, dan mempunyai paradigma yang benar-benar baru dalam membangunkan suatu organisasi besar layaknya membangunkan "macan tidur". DPP pada periode ini tidak mungkin lagi memposisikan orang-orang yang tidak piawai dalam bidangnya dengan kata lain orang-orang yang diambil dari "keranjang yang tidak jelas", tetapi harus diisi oleh orang-orang yang mempunyai komitmen tinggi dalam memajukan organisasi .
Dengan komposisi organisasi yang terdiri dari orang-orang yang mempunyai komitmen tinggi dan professional akan menggambarkan Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia sebagai organisasi Pemuda yang modern yang setia pada tujuan dan berorientasi kebangsaan untuk menjaga keutuhan Bangsa.
Viva Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia
Selamat Berjuang.
*) Diambil dari buku GERAK GANDA, Patmono SK, STh.
Bung Karno mengatakan "tariklah pelajaran dari mempelajari sejarah dan jadikanlah itu jadi hukum moral yang sangat menentukan". Memang suatu bangsa bisa menjadi besar jika bangsa itu bekerja keras, hasil besar suatu bangsa adalah kristalisasi keringat perjuangan bangsa tersebut.
"Tariklah pelajaran dari mempelajari sejarah dan jadikanlah itu jadi hukum moral yang sangat menentukan"
Lahirnya Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia melalui perjalanan sejarah yang amat panjang dan mengikuti perjalanan sejarah bangsa. Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, merupakan mujizat dan anugerah bagi Rakyat Indonesia. Perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan setelah proklamasi 17 Agustus 1945 masih sangat berat. Tekad Belanda untuk kembali menduduki wilayah Indonesia mendapat tantangan yang keras dari seluruh lapisan masyarakat. Dalam masa revolusi itu pemuda-pemudi terpanggil untuk terjun dalam kancah peperangan. Demikian pula dengan Angkatan Muda Kristen Indonesia. Kesadaran bahwa angkatan muda kristen dan seluruh umat Kristen adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari bangsa Indonesia menggugah angkatan muda Kristen untuk mengorganisir diri menunjukkan keberadaannya
Lanjutan Sejarah ( bag I )
Menurut seorang pendeta Gereja Krsiten Jawa yaitu Pdt. S. Brotosuwignyo , menjelang diadakannya Kongres Pemuda tanggal 9-11 Nopember 1945 di Yogyakarta, sekelompok pemuda Kristen membentuk organisasi pemuda Kristen untuk mengambil bagian dalam kongres. Perjuangan membentuk organisasi itu memang tidak terlalu mulus. Para pemimpin pemuda Kristen di Yogyakarta itu mengadakan pertemuan dengan mengundang para pendeta dan pimpinan umat Kristen. Tetapi banyak tidak hadir dalam pertemuan tersebut karena belum adanya kesadaran akan kedudukan umat Kristen di Indonesia serta adanya pengertian yang sengaja dihembus-hembuskan bahwa politik itu dosa, kotor dan sebagainya. Dipihak lain, kecurigaan masyarakat terhadap umat Kristen dan tuduhan sebagai antek-antek Belanda.
Justru dengan tantangan seperti itu, mendorong pemimpin-pemimpin angkatan muda Kristen mengadakan pertemuan tanggal 4 Nopember 1945 di Yogyakarta itu membentuk organisasi yang diberi nama Pemoeda Kristen Protestan Indonesia (PKPI) dan Ketua Umum Pengurus Besar di tangan Sarwoko (seorang wartawan dan warga jemaat Gereja Kristen Jawa Jakarta). Adapun pimpinan yang lain adalah Sutjipto Wirowidjojo, Sarasto, Pdt. S Brotosuwignyo dan lain-lain
Tidak lama setelah terbentuknya PKPI, tokoh-tokoh Kristen membentuk partai politik. Partai politik yang beraspirasi Kristen itu dibentuk di jalan Kramat Raya 65 Jakarta dengan nama Partai Kristen Nasional. Beberapa nama yang berkumpul pada waktu itu Dr.St. Gunung Mulia.SH, F. Laoh, Pdt. Probowinoto, Dr. WS Johanes, JK Pangabean, Sudarsono, Maryoto dan M Abednego. Dalam percakapan yang dipimin oleh Pdt. Probowinoto (Gereja Kristen Jawa) tanggal 11 Nopember 1945 disetujui berdirinya Partai Kristen Nasional yang bertujuan dan berusaha dalam bidang politik, ekonomi, sosial menurut asas-asas Firman Tuhan yang termaktub dalam Alkitab.
Lanjutan Sejarah ( bag II )
Di dalam Kongres I pada tanggal 29-31 Januari 1946 PKPI mengganti nama menjadi Persatuan Pemuda Kristen Indonesia (PPKI). Dalam kongres itu juga dipilih Ketua Umum Pengurus Besar yaitu Pdt. S Brotosuwignyo dan Sekretaris Umum Pengurus Besar yaitu F. Tambunan. PPKI pada tahun 1947 ikut membentuk Front Nasional Indonesia bersama dengan Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), Pemuda Demokrat, Pemuda Katolik dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dalam rangka untuk membendung dominasi Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo).
Gerakan Oikumene di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari simbol-simbol yang jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia telah nampak. Walaupun gerakan oikumene baru mendapatkan bentuknya yang semakin jelas sesudah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Simbol-simbol yang diwujudkan dalam berbagai peristiwa oikumenis yang melibatkan angkatan muda Kristen baik secara regional, nasional maupun internasional jelas merupakan babak awal yang mempunyai kaitan dengan setiap gerakan. Kelambatan pembentukan Dewan Gereja Indonesia itu ditanggapi pemuda-pemuda Kristen dengan satu gerak yang lebih cepat dalam melembagakan gerakan oikumenis di Indonesia. Suatu pertemuan oikumenis pemuda Kristen se Indonesia yang diadakan tangal 18-28 Desember 1948 telah melahirkan satu lembaga pemuda Kristen yang benar-benar bersifat oikumenis, dengan nama Majelis Pemuda Kristen Oikumenis (MPKO), yang dipelopori oleh Pdt. WJS Rumambi.
Lanjutan Sejarah ( bag III )
Dengan lahirnya MPKO sebagai perwujudan gerakan oikumene di Indonesia, maka kepeloporan angkatan muda Kristen menjadi lengkap. PPKI bergerak dalam kemasyarakatan, kebangsaan, kenegaraan dan gereja, sedangkan MPKO berada dalam lingkup oikumenis.
Walaupun dalam perjalanannya PPKI dan MPKO selalu mengusahakan pendekatan kepada masing-masing pihak, namun baru pada bulan Nopember 1955 kedua pimpinan organisasi tersebut mengadakan pertemuan, yaitu atas inisiatip Dr. J. Leimena. Dalam pertemuan itulah kedua pimpinan organisasi mengeluarkan pernyataan bersama dalam rangka menggalang persatuan dan kesatuan pemuda.
Sebagai tindak lanjut dari pertemuan tersebut, pimpinan MPKO diwakili Pdt. Lee Sian Hui dan PPKI diwakili Alexander Wenas pada tanggal 13 Juli 1956 mengikuti Sidang Lengkap III DGI di Jakarta. Setelah melalui perjalanan yang panjang pergumulan antara DGI, PPKI dan MPKO maka pada 24 Maret 1961 diadakan konsultasi organisasi-organisasi Pemuda Kristen di DGI dengan menghasilkan suatu kesepakatn dan penegasan terhadap kesatuan "keesaan segenap Pemuda Kristen Indonesia dalam wujud satu organisasi". Penanda tangan pernyataan tersebut antara lain Mr. JCT Simorangkir (PPKI), Soebagyo Pr (PPKI), Sarwoko (PPKI), Gouw Kiem An (MPKO), I Pangomanan (MPKO), Soetarno STh (GMKI), JE Tulung mewakili Komisi Pemuda DGI dll.
Sejak ditandatanganinya pernyataan bersama itu usaha untuk mewujudkan kesatuan organisasi Pemuda Kristen pun semakin nyata. Pada bulan April 1962, MPKO menyelenggarakan Kongresnya yang ke VI di Jakarta mengambil keputusan-keputusan penting antara lain pembubaran MPKO. Dan sehari setelah Kongres VI MPKO itu diadakan Musyawarah Pemuda Kristen Seluruh Indonesia yang disponsori oleh Komisi Pemuda DGI. Musyawarah itu berlangsung dari tanggal 18-23 April 1962 di Kebayoran Baru, Jakarta. Dalam musyawarah tersebut nama GERAKAN ANGKATAN MUDA KRISTEN INDONESIA yang telah dicetuskan dalam konsultasi pimpinan organisasi Pemuda Kristen Indonesia tanggal 24 Maret 1961 disahkan sebagai nama organisasi kesatuan Pemuda Kristen. Di dalam Anggaran Dasarnya termaktub kalimat bahwa GAMKI sebagai kelanjutan Persatuan Pemuda Kristen Indonesia (PPKI) yang didirikan pada tanggal 4 Nopember 1945 di Yogyakarta di tengah-tengah bergolaknya Revolusi Kemerdekaan Indonesia.
Lanjutan Sejarah ( bag IV )
Sebagai pimpinan organisasi, musyawarah tersebut memilih Dewan Pimpinan Pusat GAMKI dengan Ketua Umum Mr. JCT Simorangkir dan Sekretaris Jenderal Soebagyo Pr. dan anggota-anggotanya antara lain Sarwoko, Soetarno, Sumardi MA, A Wenas dan sekretariat di jalan Salemba Raya 10 Jakarta.
Sebagai realisasi dari keputusan tersebut maka PPKI mengadakan kongresnya ke VIII di Surabaya tahun 1962 dengan memutuskan untuk mengintegrasikan diri di dalam GAMKI.
Terbentuknya GAMKI sebagai organisasi kesatuan pemuda Kristen Indonesia semakin membulatkan tekad untuk mewujudkan gerak ganda pemuda Kristen Indonesia secara bersama-sama. Pemuda Kristen serta gereja-gereja telah mengakui bahwa GAMKI merupakan satu-satunya organisasi pemuda Kristen yang membawakan suara pemuda Kristen di tengah-tengah masyarakatnya. Dengan dasar kesepakatan dan keputusan tersebut menjadi jelas komisi pemuda gereja bergerak secara khusus dalam lingkungan gerejani dan secara kelembagaan menjadi sumber insani (sumber kader) bagi GAMKI.
Perjalanan bersama antara GAMKI dan GMKI itu mendorong keduanya saling mengisi dan di dalam pertumbuhan organisasi massa Kristen yang lain, kedua organisasi itu memberikan kader-kadernya sebagai pimpinan, seperti nampak dalam pembentukan Gerakan Siswa Kristen Indonesia pada tahun 1964.
Dalam Kongres tahun 1965 terpilih sebagai Ketua Umum adalah Soebagyo Pr. dan Sekretaris Jenderalnya Pontas Nasution Selesai kongres I itu GAMKI dihadapkan dengan kenyataan terjadinya peristiwa G-30-S/PKI di akhir bulan September. Oleh karena itu secara bahu membahu GAMKI, GKMI dan GSKI terus mengikuti perkembangan masyarakat secara saksama. GAMKI membentuk Brigade Serba Guna (Brigsena) sebagai satu kesatuan, di Yogyakarta membentuk Komando Siaga Kristen (KSK) sebagai satuan bela diri. KSK yang didirikan tahun 1966 itu berkembang sebagai satu perguruan yang memiliki ciri-ciri khas dengan nama aliran Merpati Putih. Pada masa itu GAMKI kehilangan 5 anggotanya di Solo.
Kongres II GAMKI baru berlangsung pada tanggal 27-30 Nopember 1969 di Sukabumi, dan terpilih sebagai Ketua Umum adalah Pontas Nasution dan Sekretaris Umum adalah FW Raintung dan dilengkapi dengan lima orang ketua masing-masing Sutjipto, Pdt. Eka Dharma Putera, Subagyo Pr, Nn. Henny Mussu dan Amir L Sirait. Karena adanya peraturan Menteri Dalam Negeri No.12 yang dikenal dengan Permen 12, yang menuntut kesetiaan pegawai negeri untuk menganut loyalitas tunggal, maka banyak fungsionaris DPP GAMKI menjadi tidak aktif. Selain hal itu kepengurusan ini tidak dapat berjalan dengan baik karena Pontas Nasution, Pdt. Eka Dharma Putera studi ke luar negeri.
Kondisi organisasi yang kurang hidup tersebut, akhirnya diadakan reshuffle personalia dan dikukuhkan Amir L Sirait sebagai Ketua Umum dan Pdt. F.W Raintung sebagai Sekretaris Umum sampai pada Kongres III. Kongres DPP GAMKI III diadakan di Samirono Yogyakarta, sepertinya ada tradisi setelah menjadi Sekretaris Umum langsung menggantikan sebagai Ketua Umum. Pada periode itu Pdt. F.W. Raintung menjabat sebagai Ketua Umum dan Sekretaris Umum dijabat oleh Suryohadi.
Pada tanggal 22-29 April 1984 diadakan Kongres IV di Cibubur dan berhasil mengadakan penyegaran dan regenerasi secara total dalam kepengurusan Dewan Pimpinan Pusat. Batas usia 40 tahun bagi pimpinan organisasi dapat diberlakukan dengan terpilihnya dr. Sukowaluyo sebagai Ketua Umum dan Patmono Sk STh sebagai Sekretaris Umum (keduanya adalah anggota Gereja Kristen Jawa). Pada periode tersebut masalah yang dihadapi antara lain tentang proses pembahasan undang-undang tentang organisasi kemasyarakatan yaitu rencana ditetapkannya Pancasila sebagai satu-satunya asas. Pokok permasalahan ini disoroti secara kritis oleh GAMKI, dan memberi pandangan bahwa Pancasila adalah sebagai dasar dan ideologi negara. GAMKI terus berdiskusi dengan berbagai pihak dengan Fraksi Karya Pembangunan diwakili Pdt. Srihandoko STh, John Pieres dan Milton Hasibuan. Sedangkan pertemuan dengan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia diwakili dr. Sukowaluyo, John Pieres dan Patmono Sk. STh.
Dalam Kongres GAMKI ke V terpilih Alex Paath sebagai Ketua Umum, perjalanan yang sangat memprihatinkan, dan mengakibatkan DPD dan DPC seluruh Indonesia menyatakan sikap untuk tidak mengakui Ketua Umum. Melalui peran para senior GAMKI, maka menunjuk Alex Litay sebagai Pj. Ketua Umum dan Bernard Nainggolan SH sebagai Pj. Sekretaris Umum untuk mempersiapkan kongres GAMKI VI.
Pada Kongres GAMKI VI di Wisma Kinasih-Caringin tanggal 26-29 September 1993, dapat menyusun personalia baru, tetapi karena campur tangan pihak-pihak lain, maka terpilihlah Pdt. Dicky Mailoa STh sebagai Ketua Umum dan Drs. Ohiao Halawa sebagai Sekretaris Umum.
Pertanyaan besar yang terjadi kapan DPP hasil Kongres Ke VI berakhir, terjawab sudah dengan diadakannya Pertemuan Nasional Pemuda Kristen dan Kongres Ke-7 Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia yang dilangsungkan di Graha Wisata Pemuda, Kuningan Jakarta pada tanggal 10 April s/d 13 April 2003, yang diprakarsai oleh Dr. Sukowaluyo Mintorahardjo.
Hasil Kongres Ke VII tersebut berakhir dengan terpilihnya Sahat Sinaga,S.H sebagai Ketua Umum dan Nikson Gans Lalu,S.H. sebagai Sekretaris Umum. Tidaklah ringan beban tanggung jawab dari DPP periode 2003-2007, karena berada pada suatu situasi Pemerintahan yang mempunyai warna baru dan sulitnya ekonomi serta meningginya angka pengangguran.
Hal yang terpenting adalah DPP harus dapat tanggap dan segera menentukan suatu garis organisasi yang jelas untuk dapat eksis, dan mempunyai paradigma yang benar-benar baru dalam membangunkan suatu organisasi besar layaknya membangunkan "macan tidur". DPP pada periode ini tidak mungkin lagi memposisikan orang-orang yang tidak piawai dalam bidangnya dengan kata lain orang-orang yang diambil dari "keranjang yang tidak jelas", tetapi harus diisi oleh orang-orang yang mempunyai komitmen tinggi dalam memajukan organisasi .
Dengan komposisi organisasi yang terdiri dari orang-orang yang mempunyai komitmen tinggi dan professional akan menggambarkan Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia sebagai organisasi Pemuda yang modern yang setia pada tujuan dan berorientasi kebangsaan untuk menjaga keutuhan Bangsa.
Viva Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia
Selamat Berjuang.
*) Diambil dari buku GERAK GANDA, Patmono SK, STh.
Langganan:
Komentar (Atom)